Rabu, 16 Januari 2013

Lelaki itu kupanggil ‘Tante’


Bisa dikira mengidap Alzheimer disease kalau aku lupa cara Tuhan mempertemukan kita. Saat aku berkicau di lini masa, tanpa sadar ada yang memperhatikan barisan tweet-ku itu, lalu menyatukannya menjadi histori yang lebih mudah dibaca. Dialah Pribadi Prananta, pemilik akun @pipis yang punya pelangi di setiap canda tawanya. 

Ingin tahu mengapa aku memanggilnya ‘Tante’? Bukankah itu panggilan untuk seorang wanita dewasa? Itu karena dia bertanya padaku, “Bisakah memanggil tanpa berdasar umur?” saat aku memanggilnya dengan sebutan ‘Om’. Aku juga tidak tahu pasti makhluk mana yang berbisik di telingaku sehingga aku memutuskan memanggilnya ‘Tante’.

Apa kamu pernah?


Apa kamu pernah jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah kamu temui di dunia nyata? Ketika sebaris tweet di lini masa membuat jantungmu berdetak kencang tak semestinya. Apa kamu pernah merindukan suara dari seseorang yang tak pernah kamu tahu wujud aslinya? Ketika ia menyanyikan sebuah lirik lagu dengan false dan tak beraturan, tapi kamu suka.

Apa kamu pernah menjalin hubungan dengan seseorang yang berjarak ribuan kilometer? Ketika bukan lagi terbatasi antar kota, tapi antar benua. Apa kamu pernah merasakan penyesalan saat tahu seseorang itu telah tinggal lebih dekat denganmu tapi perasaannya berbalik menjadi jauh darimu? Ketika sahabat menjadi cinta lalu menjadi teman biasa. Apa kamu pernah meng-unfollow akun twitter seseorang itu hanya karena kamu merasa sakit acap kali kicauannya menghiasi lini masamu? Ketika ter-unfollow, kamu masih saja membuka profile-nya dan membaca berulang kali setiap kicauannya.

Rabu, 21 November 2012

Summer Melody


Deburan ombak kini terasa menyenangkan. Karena kini kau ada disampingku, Melody. Kita menuliskan nama dihamparan pasir, lalu terhapus oleh sapuan air pantai. Tapi aku terlanjur menulis namamu dihatiku. Dan aku tak yakin, hal apa yang bisa menghapusnya.

Rabu, 31 Oktober 2012

Aku dan kamu, klise


Kuakui kehebatan Tuhan. Ciptakan tetes hujan yang menghujamkan dirinya ke tanah. Ciptakan daun yang berguguran karena tertiup angin. Kamu sadar itu bukan?

Kamu tahu filosofi hujan bagiku? Dia jatuh untuk memberi anugrah makhluk yang tumbuh diatasnya. Dia jatuh dan meresap ke tanah, lalu butuh waktu untuk kering. Anggaplah tetes hujan itu aku, yang rela jatuh ke tanah, menyelusup ke setiap pori-porinya hanya untuk membuatmu tetap hidup. Aku jatuh berkali-kali tanpa memperdulikan keadaanku sendiri, sampai aku tertatih dan tak tahu kapan pulih.